KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
sembahkan kepada tuhan yang maha esa dan junjungan kami nabi MUHAMMAD SAW,atas
berkat dan rahmat-NYA lah kami dapat menyelesaikan laporan praktikum Ilmu
Ternak Unggas.
Adapun laporan ini
kami buat untuk dapat di jadikan suatu acuan dan bahan pertimbangan selama kami
melaksanakan praktikum Ilmu ternak unggas sampai sejauh mana kami
memahaminya.Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini
sehingga kami mengharapkan saran dan kritikannya agar kami lebih baik lagi
dalam menyusunnya laporan selanjutnya.
Semoga atas
tersusunnya laporan Ilmu ternak unggas ini dapat memberikan manfaat bagi para
pembacanya dan mahasiswa untuk dapat lebih memahami dan memperdalam ilmu Ilmu
ternak unggas ini dengan baik.
DAFTAR
ISI
KATA
PENGATAR . . . . . . ……………………………………………………………………...3
DAFTAR
ISI ……………………………………………………………………………………...4
BAB
I PENDAHULUAN ……………………………………………………….
………………5
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA
………………………………………………………………...6
BAB
III METODOLOGI …………………………………………………………………………9
BAHAN
DAN ALAT …………………………………………………………………….9
A. Acara
I …………………………………………………………………………9
B. Acara
II ………………………………………………………………………10
C. Acara
III ………………………………………………………………………12
D. Acara
IV ………………………………………………………………………13
E. Acara
V ……………………………………………………………………….14
BAB
IV HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………………………………..15
BAB
V KESIMPULAN …………………………………………………………………………19
DAFTAR
PUSTAKA …………………………………………………………………………..20
LAMPIRAN
……………………………………………………………………………………..21
BAB
I
PENDAHULUAN
Di
Indonesia jumlah unggas pada saaat ini lebih dari ratusan ribu, termasuk di
dalamnya ayam, itik dan burung.Peternakan saat ini masih merupakan sector
pertanian yang efesien dan paling cepat dalam menyediakan zat-zat pakan yang
bergizi tinggi dari sumber hewani, baik peternakan ayam petelur maupun
pedaging.Pembangunan sector pertanian termasuk di dalamnya sub sector
peternakan dengan salah satu komoditasnya yaitu ternak unggas, masih menjadi
tumpuan pembangunan nasional, hingga saat ini subsector peternakan menunjukan
perkembangan yang cukup pesat. Hal tersebut salah satunya disebabkan karenan
meningkatnya pendapatnya dan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan
pentingnya gizi bagi kehidupan terutama protein hewani seperti daging dan
telur, realita menunjukan komponen protein hewani yang memiliki peranan sangat
penting penyediaan protein hewani tersebut berasal dari unggas, termasuk di
dalamnya ayam petelur, ayam pedaging, burung puyuh, itik, angsa dan kalkun.Latar
belakang dilaksanakannya praktikum Ilmu ternak unggas ini karena mahasiswa
selain perkuliahan juga perlu didukung dengan kegiatan aplikatif yakni
praktikum untuk memberikan pengalamanan dan menerapkan ilmu yang didapatkan
pada saat perkuliahan. Proses pembelajaran ini penting agar mahasiswa dapat
mengenal langsung apa yang dipelajari serta aplikasinya di lapangan.Tujuan
dilakukannya praktikum Ilmu Ternak Unggas antara lain untuk mengetahui
fisiologis ternak unggas melalui pengamatan eksterior, mengetahui anatomi unggas,
cara prosesingnya dan mengetahui system saluran pencernaan, pernafasan serta
system reproduksi ternak unggas tersebut. Manfaat yang dapat diperoleh yaitu
dapat memperdalam pengetahuan mengenai beberapa aspek pengamatan yang dikaji
dan diamati dalam kegiatan praktikum ini.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Ayam
peliharaan berasal dari domestikasi ayam hutan merah (ayam bangkiwa, ''Gallus gallus'')
yang hidup di India. Namun demikian, pengujian molekular menunjukkan
kemungkinan sumbangan plasma nutfah dari ''G. sonneratii'', karena ayam hutan
merah tidak memiliki sifat kulit warna kuning yang menjadi salah satu ciri ayam
peliharaan.
Ayam
menunjukkan perbedaan morfologi di antara kedua tipe kelamin (dimorfisme
seksual).Ayam jantan (''jago'', ''rooster'') lebih atraktif, berukuran lebih
besar, memiliki jalu panjang, berjengger lebih besar, dan bulu ekornya panjang
menjuntai.Ayam betina (''babon'', ''hen'') relatif kecil, berukuran kecil, jalu
pendek atau nyaris tidak kelihatan, berjengger kecil, dan bulu ekor pendek.Perkelaminan
ini diatur oleh sistem hormon.Apabila terjadi gangguan pada fungsi fisiologi
tubuhnya, ayam betina dapat berganti kelamin menjadi jantan karena ayam dewasa
masih memiliki ovotestis yang dormansi|dorman dan sewaktu-waktu dapat aktif.
Sebagai
hewan peliharaan, ayam mampu mengikuti ke mana manusia membawanya.Hewan ini
sangat adaptif dan dapat dikatakan bisa hidup di sembarang tempat, asalkan
tersedia makanan baginya.Karena kebanyakan ayam peliharaan sudah kehilangan
kemampuan terbang yang baik, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di tanah
atau kadang-kadang di pohon.
·
Macam-macamnya
Karena
ayam termasuk unggas peliharaan populer dan murah, muncul berbagai istilah
teknis akibat kegiatan penangkaran dan peternakan ayam.
·
Berdasarkan fungsi,Menurut fungsinya,
orang mengenal
*
ayam pedaging atau ayam potong (''broiler''), untuk dimanfaatkan dagingnya
*
ayam petelur (''layer''), untuk dimanfaatkan telurnya;
* ayam hias atau ayam hewan timangan
(''pet'', ''klangenan''), untuk dilepas di kebun/taman atau dipelihara dalam
kurungan karena kecantikan penampilan atau suaranya (misalnya ayam katai dan
ayam pelung ayam bekisar dapat pula digolongkan ke sini meskipun bukan ayam
peliharaan sejati);
*
ayam sabung, untuk dijadikan permainan sabung ayam.
Istilah
''ayam sayur'' dipakai untuk ayam kampung atau ayam aduan yang selalu kalah,
dan tidak diseleksi khusus sebagai ayam pedaging.
·
Berdasarkan ras
ayam
kampong,Ayam Sumatra
Di
Indonesia dikenal istilah ''ayam ras'' dan ''ayam bukan ras '' (''buras'', atau
kampung). Dalam pengertian "ayam ras" menurut istilah itu yang
dimaksud sebenarnya adalah ras yang dikembangkan untuk usaha komersial massal,
seperti Ayam leghorn,Leghorn("lehor"). Ke dalam kelompok ayam buras
terdapat pula ras lokal ayam yang khas namun tidak dikembangkan untuk usaha
komersial massal.Ayam-ayam ras lokal demikian sekarang mulai dikembangkan
(dimurnikan) sebagai ayam sabung, ayam timangan (''pet''), atau untuk acara
ritual. Berikut ini adalah ras lokal ayam di Nusantara yang telah dikembangkan
untuk sifat/penampilan tertentu:
* ayam pelung, ras lokal dan unggul dari
Priangan (Kabupaten Cianjur) yang memiliki kokokan yang khas (panjang dan bernada
unik), termasuk ayam hias
* ayam kedu (termasuk ayam cemani), ras
lokal dan mulia dari daerah Kedu dengan ciri khas warna hitam legam hingga
moncong dan dagingnya, termasuk ayam pedaging dan ayam hias
* ayam nunukan, ras lokal dan mulia dari
Nunukan, Kalimantan Utara, dengan bentuk badan tegap dan ukuran besar,
keturunan ayam aduan, termasuk ayam pedaging dan hias
·
Berdasarkan penampilan luar (fenotipe)
khas
Berkas:Bantam
Rooster,Ayam "bantam" adalah istilah bahasa Inggris untuk ayam katai
atau setengah katai hasil seleksi.
Terdapat
pula beberapa istilah untuk menyebut penampilan fenotipe khas tertentu namun
sifat itu tidak selalu eksklusif milik ras tertentu, seperti
*
''ayam walik'' (''frizzle''), ayam dengan bulu yang tidak menutupi badan tetapi
tegak berdiri;
*
''ayam bali'', ayam dengan leher tidak berbulu dan jambul di kepalanya,
sekarang mulai dibiakmurnikan.
*
''ayam katai'' (''bantam''), istilah umum untuk ayam dengan ukuran kecil
(proporsi panjang kaki dengan ukuran badan lebih kecil daripada ayam
"normal"), terdapat berbagai ras lokal dan ras murni seleksi yang
masuk kategori ini.
BAB
III
METODOLOGI
METODE,ALAT DAN BAHAN
A. ACARA
1
Metode
1.
Pengamatan
Eksterior
-
Meletakan
ayam jantan dan betina ditempat terbuka dan mulai pengamatan dengan
menggunakan kertas dan pinsil untuk menggambar performan ayam secara
keseluruhan, bagian-bagian tubuh (kepala, kaki, sayap, ekor, badan) serta amati
bila terdapat kelainan fisik pada ayam yang sedang diamati.
-
Pengamatan
eksterior dan fisiologi secara keseluruhan meliputi :
a.
Kepala
( jengger, mata, daun telingga, paruh)
b.
Badan
c.
Cakar
dan paha
d.
Warna
bulu
e.
Warna
kulit
f.
Kelainan
g.
Penimbangan
h.
Karakter
khusus (suara, tingkah laku dan lain-lain)
i.
Detak
Jantung per menit
j.
Temperatur
tubuh
k.
Ukuran
tubuh (panjang sayap, panjang leher, panjang kaki, panjang taji, panjang
cengger, panjang bulu ekor)
-
Pengamatan
eksterior dan performan ayam dengan menggunakan kamera (untuk data kelompok)
Bahan
Dan Alat
1.
Ayam
jantan dewasa
2.
Ayam
betina dewasa
3.
Timbangan
4.
Termometer
5.
Stetoskop
6.
Alat
tulis
7.
Meteran
B. ACARA
II
Metode
Prosessing Dan Pengamatan Anatomi
-
Penimbangan
ayam sebelum dipotong, untuk mengetahui bobot hidup.
-
Mmotong
sepasang ayam dengan menggunakan pisau pada bagian leher untuk memutus vena
jugularis dan arteri karotis dengan sekali iris (sticking)
-
Penimbangan
ayam setelah dipotong
-
Penimbangan
bagian-bagian tubuh ayam , meliputi :
a.
Bobot
darah (waktu pengeluaran darah +1,5 menit)
b.
Bobot
bulu (pencabutan bulu menggunakan metode manual wet picking dengan semi
scalding; 51-54 C selama + 75 detik)
c.
Bobot
dressed
d.
Bobot
vicera
e.
Bobot
kaki/ceker
f.
Bobot
leher dan kepala
g.
Bobot
karkas
h.
Bobot
non karkas
i.
Persentase
karkas
-
Menggambar
masing-masing organ yang kita amati
-
Mengamati
dan memahami letak masing-masing organ
-
Memfoto
organ yang kita amati (sebagai data kelompok)
-
Packing
dan penyimpanan karkas beserta organ lain kedalam freezer kulkas
Bahan
Dan Alat
1.
Ayam
jantan dewasa
2.
Ayam
betina dewasa
3.
Timbangan
4.
Termometer
5.
Nampan
6.
Pisau/cutter
7.
Gunting
8.
Pinset
9.
Penampung
darah
10. Air panas
11. Alat perebusan air (panci,
kompor, dll)
12. Peralatan killing
13. Peralatan eviscerating
14. Peralatan parting
15. Peralatan bedah ayam
16. Peralatan packing & storage
17. Alat tulis
C. ACARA
III
Metode
Pengamatan saluran pernapasan
unggas
-
Setelah
ayam dipotong kemudian dilakukan pembedahan untuk mencari saluran pernapasan
-
Pengamatan
saluran pernapasan mulai dari hidung, trakea, syrinx, paru-paru broncus
broncheall
-
Penimbangan
organ pernapasan
-
Mengambar
organ saluran pernapasan yang diamati
-
Mengamati
dan memahami letak masing-masing organ
-
Memfoto
organ yang diamati (sebagai data kelompok)
Bahan
Dan Alat
1.
Ayam
jantan dewasa
2.
Ayam
betina dewasa
3.
Timbangan
4.
Pisau/cutter
5.
Gunting
6.
Pinset
7.
Peralatan
bedah ayam & sarung tanggan sterill
8.
Alat
tulis
9.
D. ACARA
IV
Metode
Pengamatan saluran pencernaan
unggas
-
Setelah
ayam dipotong kemudian dilakukan pembedahan untuk mencari saluran pencernaan
-
Pengamatan
saluran pencernaan dimulai dari paruh sampe dengan kloak
-
Penimbangan
organ pencernaan
-
Mengukur
panjang usus halus (duodenum,jejunum,
ileum) usus besar dan sekum
-
Menggambar
organ saluran pencernaan yang diamati
-
Mengamati
dan memahami letak masing-masing organ
-
Memfoto
organ yang diamati (sebagai data kelompok)
Alat
dan Bahan
1.
Ayam
jantan dewasa
2.
Ayam
betina dewasa
3.
Timbangan
4.
Pisau/cutter
5.
Gunting
6.
Pinset
7.
Peralatan
bedah ayam & sarung tangan
8.
Alat
tulis
E.
ACARA V
Metode
Pengamatan saluran reproduksi
unggas jantan dan betina
-
Setelah
ayam dipotong kemudian dilakukan pembedahan untuk mencari saluran reproduksi
-
Pengamatan
saluran reproduksi untuk ternak unggas jantan dan betina
-
Penimbangan
organ reproduksi jantan dan betina
-
Mengambar
organ saluran reproduksi yang diamati
-
Mengamati
dan memahami letak masing-masing organ
-
Memfoto
organ yang diamati
Bahan
Dan Alat
1.
Ayam
jantan dewasa
2.
Ayam
betina dewasa
3.
Timbangan
4.
Pisau/cutter
5.
Gunting
6.
Pinset
7.
Peralatan
bedah ayam dan saluran tangan
8.
Alat
tulis
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum
ini di laksanakan pada hari minggu tanggal 23 desember 2012 bertepat di
laboratarium nutrisi,fakultas pertanian,univesitas mulawarman.
Pada
praktikum ini mahasiswa di bagi menjadi
beberapa kelompok. Dan setiap kelompok mahasiswa di beri satu ternak unggas dan
kebetulan kelompok kami mendapat unggas ayam betina layer.
Dalam
praktikum ini kami melakukan pengamatan sebelum di potong yaitu dengan cara
ternak di lepas di halaman yang luas guna untuk melihat gesture dan proporsi
ayam tersebut, adapun yang kami amati antara lain yaitu :
a. Warna
bulu
Bulu
ayam betina yang kami lihat yaitu bulunya tampak kusam,dan tidak rapi.
b. Kepala
(jengger,mata, daun telinga dan paruh)
Jengger
turun, mata terlihat kurang cerah, daun telingaterlihat pucat, paruh berbentuk
tidak sempurna karena mengalami pemotongan scara sengaja.
c. Cakar
dan paha
Carakar
normal namun kuku terlihat tidak normal karena keadaan kuku panjangnya tidak
sma antara ceker sebeah kanan dan kiri dan paha terlihat normal
d. Badan
Badan
normal namun berat badan terlihat kurus
e. Kelainan
Bulu
terlihat kurang cerah,paruh pendek karena di potong, kuku terlihat tidak sma
rata panjangnya, jengger telihat pucat,
f. Penimbangan
Berat
hidup : 1,5 KG
Berat
karkas : 900 Gr
Berat
non karkas : 1 KG
Berat
darah : 40,5 Gr
Berat
vicera : 73,5 Gr
Berat
kaki/ceker : 53,5 Gr
Berat
leher/kepala : 85,9 Gr
g. Karakter
khusus (suara,tingkah lak dan lain-lain)
h. Temperature
tubuh
Suhu
tubuh : 39,5 C
i.
Ukuran tubuh(panjang sayap, panjang
leher, panjang kaki, panjang taji,panjang jengger, panjang buluekor)
Panjang
sayap : 33 Cm
Panjang
leher : 12 Cm
Panjang
jengger : 55 Cm
Panjang
kaki : 13 Cm
Panjang
bulu ekor : 12 Cm
Lingkar
badan : 30 Cm
j.
Warna kulit
k. Detak
jantung permenit
Detak
jantung 138/menit
Setelah mengamati ayam tersebut dalam keadaan
hidup ayam kemudian ayam tersebut kami potong tentunya dengan mengedepankan
syariat islam dalam hal pemotongannya karna nantinya ayam setelah selesai di
amati bisa atau dapat di konsumsi agar dagingnya tidak mubajir dan di buang
sia-sia.
Selain
untuk melihat bagian dalam dari ayam tersebut kami juga mengambil darah ayam
tersebut ketika dia di sembelih untuk mengukur dan menimbang darah yang keluar
pada saat di potong dan hasil yang kami dapat saat mengukur darah yang keluar
yaitu 40,5 gram.
Setelah
di sembelih ayam tersebut kami biarkan beberapa saat untuk membiarkannya mati
dulu,setelah yakin mati kami segera membedah ayam tersebut guna untuk melihat
dan mengambil dari jeroan ayam tersebut,pada waktu praktikum kami tidak
membuang bulu ayam tersebut duluan karna air panas belum tersedia jadi daripada
memakan waktu kami mendahulukan membedah ayam tersebut,dalam hal mengambil
dalaman atau jeroan dari ayam tersebut kami cukup mengalami kesulitan. Setelah
beberapa saat berjuang akhirnya kami berhasil mengambil jeroannya tanpa merusak
daging dan juga jeroan ayam itu sendiri.
Setelah
di ambil kami segera memisahkan saluran pernafasan dan juga reproduksi ayam
betina tersebut agar kami lebih mudah mengamati saluran reproduksinya dan juga
selain mengamati kami juga menimbangnya. Sama seperti saluran reproduksi pada
saluran pernafasan kami juga melakukan hal yang sama yaitu mengamati tata letak
saluran penafasan tersebut dan juga menimbannya.
Selain
menimbang saluran penceranaan dan saluran reproduksi kami juga menimbang kaki,
leher dan kepala, karkas, non karkas dan vicera.
Table
1.1 penimbangan bagian tubuh
Bagian
ayam yang di timbang
|
Berat/gram
|
Bobot
kaki/ceker
Bobot
leher dan kepala
Bobot
karkas
Bobot
non karkas
Bobot
vicera
Berat
darah
|
53,55
85,9
9
(ons)
1
(kg)
73,5
40,9
|
Sebelum
karkas di timbang bagian kepala dan leher, kaki/ceker,bulu, di pisahkan dari
tubuh, setelah kaki/ceker,kepala dan leher di pisahkan dari tubuh ayam bagian
tersebut di timbang untuk mendapatkan berat non karkas, kemudian bagian yang
lain juga di timbang yang akan menghasilkan berat karkas.
BAB
V
KESIMPULAN
Setelah
melakukan praktikum ini kami dapat mengetahui anatomi dan fisiologi ayam layer
betina, serta mengetahui letak atau urutan pencernaan dan reproduksi ayam layer
betina dan mengetahui detak jantung pada saat ayam dalam keadaan stress karena
faktor lingkungan dan mengetahui suhu tubuh ayam tersebut.
Kami juga dapat
mengetahui bentuk ayam yang cacat karena pemotongan bagian tubuh yang di
lakukan secara sengaja dan bentuk tubuh ayam yang cacat karena factor
genetiknya.
Selain itu juga dengan
melakukan praktikum ini kami dapat memahami dengan pasti saluran pencernaan
dengan benar dan juga dapat melihat langsung saluran reproduksi ayam layer
betina.
DAFTAR
PUSTAKA
Medion.com.program
Pemeliharaan Ayam Pedaging. Medion,Bandung
Suprijatna E,et
all.2008. Ilmu Ternak Unggas. Penebar Swadaya,Jakarta.
Tabbu,C.R.2000.
Penyakit Ayam dan Penanggulangannya.Penerbit Kanisius,Yogyakarta.
Yuwanta, T. Dasar
Ternak Unggas.Fakultas peternakan. Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar