java script

menu

Sabtu, 06 April 2013

TERNAK UNGGAS

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami sembahkan kepada tuhan yang maha esa dan junjungan kami nabi MUHAMMAD SAW,atas berkat dan rahmat-NYA lah kami dapat menyelesaikan laporan praktikum Ilmu Ternak Unggas.
Adapun laporan ini kami buat untuk dapat di jadikan suatu acuan dan bahan pertimbangan selama kami melaksanakan praktikum Ilmu ternak unggas sampai sejauh mana kami memahaminya.Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini sehingga kami mengharapkan saran dan kritikannya agar kami lebih baik lagi dalam menyusunnya laporan selanjutnya.
Semoga atas tersusunnya laporan Ilmu ternak unggas ini dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya dan mahasiswa untuk dapat lebih memahami dan memperdalam ilmu Ilmu ternak unggas ini dengan baik.









DAFTAR ISI

KATA PENGATAR . . . . . . ……………………………………………………………………...3
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………...4
BAB I  PENDAHULUAN ………………………………………………………. ………………5
BAB II  TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………………………...6
BAB III METODOLOGI …………………………………………………………………………9
BAHAN DAN ALAT …………………………………………………………………….9
A.    Acara I  …………………………………………………………………………9
B.     Acara II ………………………………………………………………………10
C.     Acara III ………………………………………………………………………12
D.    Acara IV ………………………………………………………………………13
E.     Acara V ……………………………………………………………………….14
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………………………………..15
BAB V KESIMPULAN …………………………………………………………………………19
DAFTAR PUSTAKA  …………………………………………………………………………..20
LAMPIRAN ……………………………………………………………………………………..21

                                   

BAB I
PENDAHULUAN
Di Indonesia jumlah unggas pada saaat ini lebih dari ratusan ribu, termasuk di dalamnya ayam, itik dan burung.Peternakan saat ini masih merupakan sector pertanian yang efesien dan paling cepat dalam menyediakan zat-zat pakan yang bergizi tinggi dari sumber hewani, baik peternakan ayam petelur maupun pedaging.Pembangunan sector pertanian termasuk di dalamnya sub sector peternakan dengan salah satu komoditasnya yaitu ternak unggas, masih menjadi tumpuan pembangunan nasional, hingga saat ini subsector peternakan menunjukan perkembangan yang cukup pesat. Hal tersebut salah satunya disebabkan karenan meningkatnya pendapatnya dan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi kehidupan terutama protein hewani seperti daging dan telur, realita menunjukan komponen protein hewani yang memiliki peranan sangat penting penyediaan protein hewani tersebut berasal dari unggas, termasuk di dalamnya ayam petelur, ayam pedaging, burung puyuh, itik, angsa dan kalkun.Latar belakang dilaksanakannya praktikum Ilmu ternak unggas ini karena mahasiswa selain perkuliahan juga perlu didukung dengan kegiatan aplikatif yakni praktikum untuk memberikan pengalamanan dan menerapkan ilmu yang didapatkan pada saat perkuliahan. Proses pembelajaran ini penting agar mahasiswa dapat mengenal langsung apa yang dipelajari serta aplikasinya di lapangan.Tujuan dilakukannya praktikum Ilmu Ternak Unggas antara lain untuk mengetahui fisiologis ternak unggas melalui pengamatan eksterior, mengetahui anatomi unggas, cara prosesingnya dan mengetahui system saluran pencernaan, pernafasan serta system reproduksi ternak unggas tersebut. Manfaat yang dapat diperoleh yaitu dapat memperdalam pengetahuan mengenai beberapa aspek pengamatan yang dikaji dan diamati dalam kegiatan praktikum ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ayam peliharaan berasal dari domestikasi ayam hutan merah (ayam bangkiwa, ''Gallus gallus'') yang hidup di India. Namun demikian, pengujian molekular menunjukkan kemungkinan sumbangan plasma nutfah dari ''G. sonneratii'', karena ayam hutan merah tidak memiliki sifat kulit warna kuning yang menjadi salah satu ciri ayam peliharaan.
Ayam menunjukkan perbedaan morfologi di antara kedua tipe kelamin (dimorfisme seksual).Ayam jantan (''jago'', ''rooster'') lebih atraktif, berukuran lebih besar, memiliki jalu panjang, berjengger lebih besar, dan bulu ekornya panjang menjuntai.Ayam betina (''babon'', ''hen'') relatif kecil, berukuran kecil, jalu pendek atau nyaris tidak kelihatan, berjengger kecil, dan bulu ekor pendek.Perkelaminan ini diatur oleh sistem hormon.Apabila terjadi gangguan pada fungsi fisiologi tubuhnya, ayam betina dapat berganti kelamin menjadi jantan karena ayam dewasa masih memiliki ovotestis yang dormansi|dorman dan sewaktu-waktu dapat aktif.
Sebagai hewan peliharaan, ayam mampu mengikuti ke mana manusia membawanya.Hewan ini sangat adaptif dan dapat dikatakan bisa hidup di sembarang tempat, asalkan tersedia makanan baginya.Karena kebanyakan ayam peliharaan sudah kehilangan kemampuan terbang yang baik, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di tanah atau kadang-kadang di pohon.
·         Macam-macamnya
Karena ayam termasuk unggas peliharaan populer dan murah, muncul berbagai istilah teknis akibat kegiatan penangkaran dan peternakan ayam.
·         Berdasarkan fungsi,Menurut fungsinya, orang mengenal
* ayam pedaging atau ayam potong (''broiler''), untuk dimanfaatkan dagingnya
* ayam petelur (''layer''), untuk dimanfaatkan telurnya;
* ayam hias atau ayam hewan timangan (''pet'', ''klangenan''), untuk dilepas di kebun/taman atau dipelihara dalam kurungan karena kecantikan penampilan atau suaranya (misalnya ayam katai dan ayam pelung ayam bekisar dapat pula digolongkan ke sini meskipun bukan ayam peliharaan sejati);
* ayam sabung, untuk dijadikan permainan sabung ayam.
Istilah ''ayam sayur'' dipakai untuk ayam kampung atau ayam aduan yang selalu kalah, dan tidak diseleksi khusus sebagai ayam pedaging.

·         Berdasarkan ras
ayam kampong,Ayam Sumatra
Di Indonesia dikenal istilah ''ayam ras'' dan ''ayam bukan ras '' (''buras'', atau kampung). Dalam pengertian "ayam ras" menurut istilah itu yang dimaksud sebenarnya adalah ras yang dikembangkan untuk usaha komersial massal, seperti Ayam leghorn,Leghorn("lehor"). Ke dalam kelompok ayam buras terdapat pula ras lokal ayam yang khas namun tidak dikembangkan untuk usaha komersial massal.Ayam-ayam ras lokal demikian sekarang mulai dikembangkan (dimurnikan) sebagai ayam sabung, ayam timangan (''pet''), atau untuk acara ritual. Berikut ini adalah ras lokal ayam di Nusantara yang telah dikembangkan untuk sifat/penampilan tertentu:
* ayam pelung, ras lokal dan unggul dari Priangan (Kabupaten Cianjur) yang memiliki kokokan yang khas (panjang dan bernada unik), termasuk ayam hias
* ayam kedu (termasuk ayam cemani), ras lokal dan mulia dari daerah Kedu dengan ciri khas warna hitam legam hingga moncong dan dagingnya, termasuk ayam pedaging dan ayam hias
* ayam nunukan, ras lokal dan mulia dari Nunukan, Kalimantan Utara, dengan bentuk badan tegap dan ukuran besar, keturunan ayam aduan, termasuk ayam pedaging dan hias

·         Berdasarkan penampilan luar (fenotipe) khas
Berkas:Bantam Rooster,Ayam "bantam" adalah istilah bahasa Inggris untuk ayam katai atau setengah katai hasil seleksi.
Terdapat pula beberapa istilah untuk menyebut penampilan fenotipe khas tertentu namun sifat itu tidak selalu eksklusif milik ras tertentu, seperti
* ''ayam walik'' (''frizzle''), ayam dengan bulu yang tidak menutupi badan tetapi tegak berdiri;
* ''ayam bali'', ayam dengan leher tidak berbulu dan jambul di kepalanya, sekarang mulai dibiakmurnikan.
* ''ayam katai'' (''bantam''), istilah umum untuk ayam dengan ukuran kecil (proporsi panjang kaki dengan ukuran badan lebih kecil daripada ayam "normal"), terdapat berbagai ras lokal dan ras murni seleksi yang masuk kategori ini.

BAB III
METODOLOGI
 METODE,ALAT DAN BAHAN
A.     ACARA 1
Metode
1.      Pengamatan Eksterior
-          Meletakan ayam jantan  dan betina  ditempat terbuka dan mulai pengamatan dengan menggunakan kertas dan pinsil untuk menggambar performan ayam secara keseluruhan, bagian-bagian tubuh (kepala, kaki, sayap, ekor, badan) serta amati bila terdapat kelainan fisik pada ayam yang sedang diamati.
-          Pengamatan eksterior dan fisiologi secara keseluruhan meliputi :
a.       Kepala ( jengger, mata, daun telingga, paruh)
b.      Badan
c.       Cakar dan paha
d.      Warna bulu
e.       Warna kulit
f.       Kelainan
g.       Penimbangan
h.      Karakter khusus (suara, tingkah laku dan lain-lain)
i.        Detak Jantung per menit
j.        Temperatur tubuh
k.      Ukuran tubuh (panjang sayap, panjang leher, panjang kaki, panjang taji, panjang cengger, panjang bulu ekor)
-          Pengamatan eksterior dan performan ayam dengan menggunakan kamera (untuk data kelompok)

Bahan Dan Alat
1.      Ayam jantan dewasa
2.      Ayam betina dewasa
3.      Timbangan
4.      Termometer
5.      Stetoskop
6.      Alat tulis
7.      Meteran


B.     ACARA II

Metode
Prosessing Dan Pengamatan Anatomi
-          Penimbangan ayam sebelum dipotong, untuk mengetahui bobot hidup.
-          Mmotong sepasang ayam dengan menggunakan pisau pada bagian leher untuk memutus vena jugularis dan arteri karotis dengan sekali iris (sticking)
-          Penimbangan ayam setelah dipotong
-          Penimbangan bagian-bagian tubuh ayam , meliputi :
a.       Bobot darah (waktu pengeluaran darah +1,5 menit)
b.      Bobot bulu (pencabutan bulu menggunakan metode manual wet picking dengan semi scalding; 51-54 C selama + 75 detik)
c.       Bobot dressed
d.      Bobot vicera
e.       Bobot kaki/ceker
f.       Bobot leher dan kepala
g.       Bobot karkas
h.      Bobot non karkas
i.        Persentase karkas
-          Menggambar masing-masing organ yang  kita amati
-          Mengamati dan memahami letak masing-masing organ
-          Memfoto organ yang kita amati (sebagai data kelompok)
-          Packing dan penyimpanan karkas beserta organ lain kedalam freezer kulkas

Bahan Dan Alat
1.      Ayam jantan dewasa
2.      Ayam betina dewasa
3.      Timbangan
4.      Termometer
5.      Nampan
6.      Pisau/cutter
7.      Gunting
8.      Pinset
9.      Penampung darah
10.  Air panas
11.  Alat perebusan air (panci, kompor, dll)
12.  Peralatan killing
13.  Peralatan eviscerating
14.  Peralatan parting
15.  Peralatan bedah ayam
16.  Peralatan packing & storage
17.  Alat tulis

C.     ACARA III

Metode
Pengamatan saluran pernapasan unggas
-          Setelah ayam dipotong kemudian dilakukan pembedahan untuk mencari saluran pernapasan
-          Pengamatan saluran pernapasan mulai dari hidung, trakea, syrinx, paru-paru broncus broncheall
-          Penimbangan organ pernapasan
-          Mengambar organ saluran pernapasan yang diamati
-          Mengamati dan memahami letak masing-masing organ
-          Memfoto organ yang diamati (sebagai data kelompok)

Bahan Dan Alat
1.      Ayam jantan dewasa
2.      Ayam betina dewasa
3.      Timbangan
4.      Pisau/cutter
5.      Gunting
6.      Pinset
7.      Peralatan bedah ayam  & sarung tanggan sterill
8.      Alat tulis
9.       
D.     ACARA IV

Metode
Pengamatan saluran pencernaan unggas
-          Setelah ayam dipotong kemudian dilakukan pembedahan untuk mencari saluran pencernaan
-          Pengamatan saluran pencernaan dimulai dari paruh sampe dengan kloak
-          Penimbangan organ pencernaan
-          Mengukur panjang usus halus  (duodenum,jejunum, ileum) usus besar dan sekum
-          Menggambar organ saluran pencernaan yang diamati
-          Mengamati dan memahami letak masing-masing organ
-          Memfoto organ yang diamati (sebagai data kelompok)

Alat dan Bahan
1.      Ayam jantan dewasa
2.      Ayam betina dewasa
3.      Timbangan
4.      Pisau/cutter
5.      Gunting
6.      Pinset
7.      Peralatan bedah ayam & sarung tangan
8.      Alat tulis





E.     ACARA V
Metode
Pengamatan saluran reproduksi unggas jantan dan betina
-          Setelah ayam dipotong kemudian dilakukan pembedahan untuk mencari saluran reproduksi
-          Pengamatan saluran reproduksi untuk ternak unggas jantan dan betina
-          Penimbangan organ reproduksi jantan dan betina
-          Mengambar organ  saluran reproduksi yang diamati
-          Mengamati dan memahami letak masing-masing organ
-          Memfoto organ yang diamati


Bahan Dan Alat
1.      Ayam jantan dewasa
2.      Ayam betina dewasa
3.      Timbangan
4.      Pisau/cutter
5.      Gunting
6.      Pinset
7.      Peralatan bedah ayam dan saluran tangan
8.      Alat tulis





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum ini di laksanakan pada hari minggu tanggal 23 desember 2012 bertepat di laboratarium nutrisi,fakultas pertanian,univesitas mulawarman.
Pada praktikum ini  mahasiswa di bagi menjadi beberapa kelompok. Dan setiap kelompok mahasiswa di beri satu ternak unggas dan kebetulan kelompok kami mendapat unggas ayam betina layer.
Dalam praktikum ini kami melakukan pengamatan sebelum di potong yaitu dengan cara ternak di lepas di halaman yang luas guna untuk melihat gesture dan proporsi ayam tersebut, adapun yang kami amati antara lain yaitu :
a.       Warna bulu
Bulu ayam betina yang kami lihat yaitu bulunya tampak kusam,dan tidak rapi.
b.      Kepala (jengger,mata, daun telinga dan paruh)
Jengger turun, mata terlihat kurang cerah, daun telingaterlihat pucat, paruh berbentuk tidak sempurna karena mengalami pemotongan scara sengaja.
c.       Cakar dan paha
Carakar normal namun kuku terlihat tidak normal karena keadaan kuku panjangnya tidak sma antara ceker sebeah kanan dan kiri dan paha terlihat normal
d.      Badan
Badan normal namun berat badan terlihat kurus
e.       Kelainan
Bulu terlihat kurang cerah,paruh pendek karena di potong, kuku terlihat tidak sma rata panjangnya, jengger telihat pucat,
f.       Penimbangan
Berat hidup : 1,5 KG
Berat karkas : 900 Gr
Berat non karkas : 1 KG
Berat darah : 40,5 Gr
Berat vicera : 73,5 Gr
Berat kaki/ceker : 53,5 Gr
Berat leher/kepala : 85,9 Gr
g.      Karakter khusus (suara,tingkah lak dan lain-lain)
h.      Temperature tubuh
Suhu tubuh : 39,5 C
i.        Ukuran tubuh(panjang sayap, panjang leher, panjang kaki, panjang taji,panjang jengger, panjang buluekor)
Panjang sayap : 33 Cm
Panjang leher : 12 Cm
Panjang jengger : 55 Cm
Panjang kaki : 13 Cm
Panjang bulu ekor : 12 Cm
Lingkar badan : 30 Cm
j.        Warna kulit
k.      Detak jantung permenit
Detak jantung 138/menit
 Setelah mengamati ayam tersebut dalam keadaan hidup ayam kemudian ayam tersebut kami potong tentunya dengan mengedepankan syariat islam dalam hal pemotongannya karna nantinya ayam setelah selesai di amati bisa atau dapat di konsumsi agar dagingnya tidak mubajir dan di buang sia-sia.
Selain untuk melihat bagian dalam dari ayam tersebut kami juga mengambil darah ayam tersebut ketika dia di sembelih untuk mengukur dan menimbang darah yang keluar pada saat di potong dan hasil yang kami dapat saat mengukur darah yang keluar yaitu 40,5 gram.
Setelah di sembelih ayam tersebut kami biarkan beberapa saat untuk membiarkannya mati dulu,setelah yakin mati kami segera membedah ayam tersebut guna untuk melihat dan mengambil dari jeroan ayam tersebut,pada waktu praktikum kami tidak membuang bulu ayam tersebut duluan karna air panas belum tersedia jadi daripada memakan waktu kami mendahulukan membedah ayam tersebut,dalam hal mengambil dalaman atau jeroan dari ayam tersebut kami cukup mengalami kesulitan. Setelah beberapa saat berjuang akhirnya kami berhasil mengambil jeroannya tanpa merusak daging dan juga jeroan ayam itu sendiri.
Setelah di ambil kami segera memisahkan saluran pernafasan dan juga reproduksi ayam betina tersebut agar kami lebih mudah mengamati saluran reproduksinya dan juga selain mengamati kami juga menimbangnya. Sama seperti saluran reproduksi pada saluran pernafasan kami juga melakukan hal yang sama yaitu mengamati tata letak saluran penafasan tersebut dan juga menimbannya.
Selain menimbang saluran penceranaan dan saluran reproduksi kami juga menimbang kaki, leher dan kepala, karkas, non karkas dan vicera.
Table 1.1 penimbangan bagian tubuh
Bagian ayam yang di timbang
Berat/gram
Bobot kaki/ceker
Bobot leher dan kepala
Bobot karkas
Bobot non karkas
Bobot vicera
Berat darah
53,55
85,9
9 (ons)
1 (kg)
73,5
40,9

Sebelum karkas di timbang bagian kepala dan leher, kaki/ceker,bulu, di pisahkan dari tubuh, setelah kaki/ceker,kepala dan leher di pisahkan dari tubuh ayam bagian tersebut di timbang untuk mendapatkan berat non karkas, kemudian bagian yang lain juga di timbang yang akan menghasilkan berat karkas.








BAB V
KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum ini kami dapat mengetahui anatomi dan fisiologi ayam layer betina, serta mengetahui letak atau urutan pencernaan dan reproduksi ayam layer betina dan mengetahui detak jantung pada saat ayam dalam keadaan stress karena faktor lingkungan dan mengetahui suhu tubuh ayam tersebut.
Kami juga dapat mengetahui bentuk ayam yang cacat karena pemotongan bagian tubuh yang di lakukan secara sengaja dan bentuk tubuh ayam yang cacat karena factor genetiknya.
Selain itu juga dengan melakukan praktikum ini kami dapat memahami dengan pasti saluran pencernaan dengan benar dan juga dapat melihat langsung saluran reproduksi ayam layer betina.













DAFTAR PUSTAKA
Medion.com.program Pemeliharaan Ayam Pedaging. Medion,Bandung
Suprijatna E,et all.2008. Ilmu Ternak Unggas. Penebar Swadaya,Jakarta.
Tabbu,C.R.2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya.Penerbit Kanisius,Yogyakarta.
Yuwanta, T. Dasar Ternak Unggas.Fakultas peternakan. Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar